Unras.com – Jakarta – Menjelang waktu berbuka, kawasan Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta Pusat dan Stadion Atletik Rawamangun mulai dipenuhi para pelari yang ngabuburit dengan berolahraga. Meski sedang menjalankan ibadah puasa, aktivitas fisik seperti lari sore tetap menjadi pilihan banyak orang untuk menjaga kebugaran.
Fenomena ini menunjukkan bahwa puasa bukan menjadi halangan untuk tetap beraktivitas dan berolahraga. Baik tua maupun muda, banyak yang tetap berlari demi menjaga performa tubuh. Beberapa orang datang bersama komunitas lari mereka, sementara yang lain memilih berlari sendirian untuk melepas penat setelah seharian bekerja.
Olahraga di bulan puasa memang menuntut strategi khusus. Banyak pelari yang memilih lari menjelang berbuka agar bisa langsung mengganti cairan tubuh yang hilang setelahnya. Namun, ada juga yang beradaptasi dengan mengurangi durasi atau intensitas latihan demi tetap menjaga kebugaran tanpa menguras energi berlebihan.
Salah satu pelari yang tetap aktif di bulan puasa adalah Randi Ocktaputra (38), seorang pekerja IT yang tergabung dalam komunitas lari 3One Runners. Menurutnya, meskipun sedang berpuasa, aktivitas fisik tetap perlu dilakukan agar tubuh tetap sehat.
"Saya tetap lari sebelum berbuka puasa. Meski menahan lapar dan haus, olahraga tetap penting untuk menjaga kebugaran," ujar Randi saat ditemui di GBK pada Kamis (6/3/2025).
Randi mulai rutin berlari sejak tahun 2021 dan tidak ingin puasa menjadi alasan untuk berhenti. Ia pun beradaptasi dengan mengurangi jarak tempuh agar tidak terlalu kelelahan sebelum berbuka.
Tidak hanya anak muda, semangat olahraga di bulan puasa juga ditunjukkan oleh Dyah Kaniasari (64), anggota komunitas lari Adewan Running Academy. Meski usianya tidak lagi muda, Dyah tetap aktif berolahraga dan berlatih seminggu dua kali dengan program latihan yang sudah diatur oleh pelatihnya.
"Saya sudah terbiasa aktif sejak dulu. Kalau tidak olahraga, tubuh rasanya tidak enak," ujar Dyah.
Menurutnya, puasa bukan alasan untuk berhenti bergerak. Sebaliknya, tubuh justru semakin bugar jika tetap berolahraga meski intensitasnya disesuaikan dengan kondisi.
Berbeda dengan Randi dan Dyah, Flora Severine Febriana lebih memilih berlari hanya di akhir pekan. Sejak mulai hobi lari pada tahun 2019, Flora selalu berusaha menyempatkan waktu untuk berolahraga di tengah kesibukan kerja.
"Di hari kerja aktivitas saya cukup padat. Jadi lebih nyaman lari saat weekend saja," kata Flora.
Meski memiliki pola latihan yang berbeda, ketiganya sepakat bahwa olahraga saat puasa tetap bisa dilakukan dengan beberapa penyesuaian.
Randi menyesuaikan jarak tempuh, Dyah mengurangi durasi latihan, sedangkan Flora menurunkan frekuensi latihan agar tetap bisa berolahraga tanpa merasa kelelahan berlebihan.
Meskipun ada tantangan seperti rasa lemas akibat berkurangnya cairan tubuh, mereka tetap menjaga semangat olahraga dengan memahami batas kemampuan masing-masing. Dengan pendekatan yang tepat, puasa bukan penghalang untuk tetap aktif dan menjaga kebugaran tubuh.
0Komentar